MitraTerkini.com, Siak – Penghulu Kampung Bukit Agung, Parlaungan Panjaitan, menggelar doa bersama dalam rangka Semarak Peringatan Hari Ulang Tahun Nasional ke-75 sekaligus Hari Bakti Transmigrasi ke-34, yang dilaksanakan di Kampung Bukit Agung, Kecamatan Kerinci Kanan, Kabupaten Siak, Sabtu (20/12/2025).
Dalam sambutannya, Penghulu Kampung Bukit Agung, Parlaungan Panjaitan menjelaskan bahwa Kampung Bukit Agung dulunya bernama UPT IV SP V, yang merupakan kawasan transmigrasi hasil program pemerintah pusat pada masa Orde Baru di Kecamatan Kerinci Kanan.
Ia menegaskan bahwa tanpa adanya program transmigrasi, Kampung Bukit Agung tidak akan berkembang seperti saat ini. Oleh karena itu, sejarah berdirinya kampung harus terus dikenalkan kepada generasi muda agar tidak terlupakan.
“Peringatan ini adalah Hari Bakti Transmigrasi, sebagai bentuk penghargaan atas perjuangan para transmigran yang bertahan dan berhasil membangun kehidupan di wilayah ini,” ujar Parlaungan.
Dari ratusan kepala keluarga transmigran yang pertama kali ditempatkan, saat ini tersisa sekitar 150 hingga 170 KK transmigran asli.
Parlaungan berharap identitas dan wajah transmigrasi tetap terjaga, serta mengimbau agar lahan tidak diperjualbelikan kepada pihak luar.
“Generasi penerus harus memahami sejarah kampungnya agar persatuan dan kebersamaan tetap terjaga,” tegasnya.
Sementara itu, Abah Juhana, salah satu transmigran pertama, mengenang awal keikutsertaannya dalam program transmigrasi pada tahun 1990. Ia mengaku berasal dari keluarga sederhana dan tidak memiliki tanah di kampung halamannya.
“Saya orang kampung, hidup miskin dan tidak punya tanah. Waktu itu ramai-ramai bersama kawan-kawan ikut transmigrasi. Saya ikut saja, alhamdulillah,” kenangnya.
Abah Juhana tiba di lokasi transmigrasi pada tahun 1991 dan bersyukur mendapatkan lahan dari pemerintah. Dengan kerja keras dan ketekunan, kehidupannya perlahan mengalami perubahan.
“Dulu apa-apa susah, komunikasi masih sulit. Tapi dijalani saja. Alhamdulillah ada perubahan. Dari tidak punya apa-apa, sekarang bisa hidup layak,” ujarnya.
Ia menambahkan, program transmigrasi yang digagas Pemerintah Republik Indonesia pada masa Presiden Soeharto sangat dirasakan manfaatnya hingga kini.
“Sudah sekitar 34 tahun kami di sini. Alhamdulillah sekarang bisa menikmati hasil usaha sendiri. Saya bersyukur dan berterima kasih atas program pemerintah,” tutup Abah Juhana.
(Red)