Warga Gerah! Antrean Solar di SPBU KM 11 Koto Gasib Didominasi Truk Besar

Mitraterkini.com, Siak – Antrean panjang kendaraan untuk mendapatkan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis solar bersubsidi di SPBU KM 11, Kecamatan Koto Gasib, Kabupaten Siak, Riau, dikeluhkan sejumlah warga.

Kondisi tersebut disebut membuat masyarakat harus menghabiskan waktu berjam-jam untuk mendapatkan solar.

Warga juga menyoroti banyaknya kendaraan berukuran besar, seperti truk trailer dan truk Fuso, yang terlihat mengantre di jalur pengisian solar.

Keluhan itu disampaikan salah seorang warga sekitar yang enggan disebutkan identitasnya kepada wartawan, Sabtu pagi (15/8/2026).

Menurut warga, antrean kendaraan besar hampir setiap hari terlihat di SPBU tersebut. Kondisi itu dinilai membuat masyarakat yang membutuhkan BBM untuk aktivitas sehari-hari harus menunggu lebih lama.

“Bang, tolong bantu angkat ke berita aktivitas SPBU di KM 11 Koto Gasib ini. Kami masyarakat di sini merasa keberatan karena antreannya lama sekali. Bahkan sampai berjam-jam belum tentu bisa mendapatkan BBM subsidi, khususnya solar,” keluh warga.

Soroti Kendaraan Besar

Warga mengaku melihat sejumlah truk trailer dan truk Fuso mengantre untuk mendapatkan solar bersubsidi. Sebagian kendaraan tersebut, menurut pengamatan warga, diduga digunakan untuk mengangkut kebutuhan perusahaan maupun hasil perkebunan.

“Yang kami lihat setiap hari, antrean solar banyak didominasi kendaraan-kendaraan besar. Kami tidak tahu apakah mereka punya QR Code atau ketentuan khusus lainnya. Yang menjadi pertanyaan kami, apakah kendaraan perusahaan seperti itu memang diperbolehkan menggunakan solar subsidi?” ujarnya.

Warga juga menyebut ada kendaraan besar yang menurut pengamatannya berkaitan dengan aktivitas perusahaan industri pulp dan kertas. Namun, informasi tersebut masih sebatas keterangan warga dan belum terverifikasi.

Tidak dapat dipastikan seluruh kendaraan yang disebut warga merupakan milik langsung perusahaan tertentu. 

Karena itu, diperlukan klarifikasi dari pihak perusahaan maupun pengelola SPBU untuk memastikan status dan peruntukan kendaraan yang melakukan pengisian.

Pertanyakan BBM Non-Subsidi

Selain antrean panjang, warga juga mempertanyakan ketersediaan BBM diesel non-subsidi di SPBU tersebut.

Menurut warga, kondisi tersebut menjadi perhatian karena kendaraan berukuran besar yang diduga berkaitan dengan aktivitas industri terlihat mengisi solar bersubsidi.

“Kalau memang kendaraan perusahaan membutuhkan BBM, kenapa tidak menggunakan BBM non-subsidi? Di sini kami melihat tidak ada Dexlite atau Pertamina Dex, sementara kendaraan besar justru mengisi solar subsidi. Akibatnya masyarakat yang benar-benar membutuhkan ikut kesulitan,” katanya.

Warga berharap pengawasan terhadap penyaluran solar bersubsidi di SPBU KM 11 Koto Gasib diperketat. Mereka meminta setiap kendaraan yang melakukan pengisian diverifikasi sesuai ketentuan yang berlaku.

“Jangan sampai subsidi yang seharusnya membantu masyarakat justru lebih banyak dinikmati kendaraan yang tidak berhak. Kami bukan melarang perusahaan beroperasi, tetapi kalau memang tidak berhak menggunakan BBM subsidi, kami berharap ditertibkan,” tegasnya.

Minta Pengawasan Diperketat

Keluhan warga tersebut berkaitan dengan penyaluran BBM subsidi yang semestinya diberikan kepada konsumen sesuai peruntukan dan ketentuan pemerintah.

Warga meminta pihak terkait, mulai dari pengelola SPBU, Pertamina, BPH Migas hingga instansi terkait, melakukan pengawasan terhadap pola penyaluran solar bersubsidi di SPBU KM 11 Koto Gasib.

Mereka berharap mekanisme verifikasi kendaraan, penggunaan QR Code, serta volume pengisian dapat diawasi secara transparan sehingga tidak terjadi penyalahgunaan BBM bersubsidi.

“Kami hanya ingin aturan ditegakkan. Kalau kendaraan itu memang berhak, silakan. Tetapi kalau ternyata tidak berhak menggunakan solar subsidi, kami berharap ditertibkan. Jangan sampai masyarakat harus mengantre berjam-jam,” pungkas warga.

Pihak SPBU Belum Berikan Tanggapan

Untuk memperoleh keberimbangan informasi, wartawan telah menghubungi pihak SPBU KM 11 Koto Gasib melalui pesan WhatsApp.

Konfirmasi ditujukan kepada pihak SPBU, termasuk kepada Jani selaku pihak yang dihubungi, terkait keluhan warga mengenai panjangnya antrean solar, kendaraan-kendaraan besar yang mengantre, mekanisme verifikasi QR Code, serta ketersediaan BBM diesel non-subsidi.

Namun, hingga berita ini diterbitkan, pesan konfirmasi tersebut belum mendapat balasan.

Keterangan dari pihak SPBU, Pertamina, maupun perusahaan yang disebut dalam keluhan warga masih diperlukan untuk memastikan fakta di lapangan sekaligus memberikan hak jawab terhadap informasi yang disampaikan masyarakat.

Informasi mengenai dugaan dominasi kendaraan perusahaan dalam antrean solar bersubsidi dalam berita ini bersumber dari keterangan warga dan masih memerlukan verifikasi serta klarifikasi pihak terkait.***

Sumber :CATATANRIAU.COM

(Red)