Mitraterkini.com, Siak — Gelombang keluhan peserta seleksi Manajer Koperasi Desa Merah Putih viral di media sosial. Sejumlah peserta menyoroti dugaan masalah teknis pada sistem ujian berbasis online atau Computer Assisted Test (CAT) yang dinilai berpotensi memengaruhi hasil seleksi.
Keluhan mencuat dari peserta yang mengikuti tes kompetensi meliputi Tes Kognitif dan Tes Manajerial. Mereka mengaku mengalami kendala teknis saat menjawab soal, bahkan menduga adanya perubahan jawaban secara otomatis tanpa dilakukan oleh peserta.
Salah seorang peserta, Ripal, mengaku menemukan kejanggalan selama mengikuti ujian. Ia menyebut sistem website yang digunakan terkesan tidak berjalan normal dan membingungkan peserta.
“Jangan berharap banyak, tapi gak tahu kenapa websitenya itu aneh banget. Terus kita udah jawab, misalnya jawaban yang kita rasa benar, nanti pas dibuka lagi kursornya langsung mengganti begitu. Jawaban yang sudah dipilih tiba-tiba berubah. Jadi jangan berharap banyak,” ujarnya.
Menurut Ripal, perubahan jawaban tersebut terjadi setelah peserta menyimpan pilihan jawaban, sehingga menimbulkan kekhawatiran mengenai validitas hasil ujian yang diperoleh peserta.
Keluhan serupa juga disampaikan Abdul Wardani, salah satu peserta seleksi. Ia menilai sistem CAT yang digunakan belum maksimal karena kerap mengalami gangguan teknis saat proses pengerjaan soal berlangsung.
“Kami kira ini sudah menjadi rahasia umum bagi peserta seleksi. Kami melaksanakan tes dengan waktu yang sangat singkat dan jumlah soal yang banyak. Kemudian kami merasa sistem ujian CAT belum begitu maksimal karena banyak terjadi error saat memilih jawaban dan itu terjadi berulang-ulang sampai waktu habis,” ungkap Abdul Wardani.
Ramainya keluhan peserta kemudian memicu munculnya surat terbuka yang ditujukan kepada Prabowo Subianto di media sosial.
Dalam surat tersebut, peserta seleksi program PHTC SPPI KDMP dan KNMP meminta perhatian pemerintah atas berbagai persoalan yang disebut terjadi selama proses seleksi, khususnya pada tahap CAT.
Peserta menilai dugaan perubahan jawaban setelah tombol “simpan dan lanjutkan” ditekan berpotensi merugikan dan memengaruhi hasil seleksi, sehingga hasil ujian dinilai tidak sepenuhnya mencerminkan kemampuan peserta.
Dalam surat terbuka itu, peserta meminta pemerintah untuk memberikan perhatian serius terhadap persoalan tersebut, melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem dan mekanisme seleksi, menindak pihak penyelenggara apabila terbukti lalai, serta menghadirkan solusi yang adil bagi peserta terdampak, termasuk kemungkinan pelaksanaan ulang tes.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi dari pihak penyelenggara terkait dugaan gangguan teknis yang dikeluhkan para peserta.***
Sumber: Sangkakala post.com
(Tim)