Mitraterkini.com, Bengkalis – Keluarga pasien meminta pertanggungjawaban pihak Rumah Sakit (RS) Permata Hati Duri atas dugaan pelayanan medis yang dinilai kurang profesional dan tidak sesuai prosedur, sehingga mengakibatkan kondisi pasien semakin memburuk.
RS Permata Hati berlokasi di Jalan Jenderal Sudirman, Duri, Kabupaten Bengkalis. Kamis (8/1/2026).
Kasus tersebut dialami oleh dua pasien laki-laki, masing-masing bernama Agustinus dan Elizeri Lagahu.
Kepada awak media, Agustinus (50) mengungkapkan bahwa dirinya pertama kali dirawat di RS Permata Hati pada Senin, 22 Desember 2025, dan diperbolehkan pulang pada Rabu, 24 Desember 2025.
Selama menjalani perawatan, Agustinus menjalani operasi di bagian perut yang ditangani oleh Dr. Fauzan, sementara dokter IGD saat itu adalah Dr. Ayu.
“Awalnya saya dibawa ke ruang operasi pada malam hari. Keesokan harinya dokter menyampaikan bahwa kondisi saya sudah sembuh dan menyarankan untuk pulang,” ujar Agustinus.
Namun, Agustinus mengaku masih merasakan nyeri pascaoperasi dan menyampaikan hal tersebut kepada dokter yang menangani. Meski demikian, ia tetap diminta pulang.
“Saya sempat menyampaikan bahwa kondisi saya masih sakit, namun dokter tetap mengatakan saya sudah sembuh dan bisa pulang, padahal saya masih merasakan ngilu di bagian yang dioperasi,” katanya.
Lebih lanjut, Agustinus mengaku terkejut setelah memeriksa kembali kondisi bekas operasinya. Ia menyebut masih ditemukan tanah dan rumput di dalam tubuhnya, serta luka operasi yang diduga belum dibersihkan dan dijahit secara sempurna.
“Saya sangat shock. Di dalam tubuh saya masih ada tanah dan rumput. Ini menandakan proses operasi tidak dilakukan dengan maksimal,” ungkapnya.
Saat ini, kondisi kesehatan Agustinus dilaporkan masih belum stabil dan ia mengalami trauma mendalam pascaoperasi.
Hal serupa juga dialami oleh pasien lain, Elizeri Lagahu, yang mengaku mendapat pelayanan medis kurang optimal di RS Permata Hati. Elizeri sebelumnya dirawat akibat luka serius di bagian kepala serta jari tengah tangan yang terputus.
Menanggapi kejadian tersebut, pihak keluarga Agustinus melalui Haristio Citra War Deni atau yang akrab disapa Deni Warsito, meminta pertanggungjawaban pihak RS Permata Hati atas dugaan kelalaian dokter yang menangani pasien.
Menurut Deni, pelayanan kesehatan di RS Permata Hati Duri sangat memprihatinkan dan mencerminkan lemahnya tata kelola manajemen rumah sakit.
Ia menyoroti tiga persoalan utama, yakni dugaan pelayanan dokter yang tidak sesuai prosedur, lemahnya manajemen rumah sakit, serta ketimpangan dalam prioritas pelayanan pasien.
“Pelayanan kesehatan di RS Permata Hati tidak baik-baik saja. Banyak pasien datang untuk sembuh, namun justru kondisinya semakin parah.
Seharusnya rumah sakit mengutamakan keselamatan, kesehatan, dan kesembuhan pasien, serta memiliki tanggung jawab moral,” tegas Deni.
Deni Warsito yang juga berprofesi sebagai wartawan dan menjabat Ketua OKK PWMOI Provinsi Riau berharap pihak terkait segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kinerja dokter dan manajemen RS Permata Hati.
“Kami berharap ada evaluasi serius dan sanksi tegas terhadap pihak-pihak yang terlibat, agar kejadian serupa tidak terulang dan pelayanan kesehatan kepada masyarakat dapat lebih baik ke depannya,” tutupnya.
Hingga berita ini diterbitkan, awak media belum berhasil mengonfirmasi pihak manajemen RS Permata Hati Duri.
Upaya konfirmasi akan terus dilakukan guna menghadirkan pemberitaan yang berimbang dan tidak tendensius.
Bersambung
(N.D/Tim)