Pamsimas Keranji Guguh Jutaan Rupiah Diduga Tak Berfungsi, Warga Pertanyakan Manfaatnya

MITRATERKINI.COM, SIAK — Program Penyediaan Air Minum Berbasis Masyarakat (Pamsimas) di Kampung Keranji Guguh, Kecamatan Koto Gasib, Kabupaten Siak, Riau, menjadi sorotan.

Fasilitas yang dibangun pada 2024 dengan dana Bantuan Pemerintah Masyarakat (BPM) sebesar Rp400 juta, ditambah swadaya masyarakat Rp45 juta, disebut hanya berfungsi sekitar tiga minggu. Jumat (25/9/2026).

Informasi mengenai kondisi Pamsimas tersebut sebelumnya viral melalui akun TikTok INFO86NEWS.COM. Kondisi fasilitas kembali menjadi perhatian masyarakat pada Sabtu (19/9/2026), setelah air disebut tidak lagi mengalir kepada warga.

Berdasarkan papan informasi kegiatan di lokasi, pembangunan Pamsimas tersebut merupakan program Direktorat Jenderal Cipta Karya melalui Balai Prasarana Permukiman Wilayah Riau, Satuan Kerja Pelaksanaan Prasarana Permukiman Wilayah Riau.

Kegiatan dengan Nomor Kontrak Swakelola HK.02.03/PAMSIMAS/P3R-PPK.AM/VI/2024/10 itu memiliki waktu pelaksanaan 120 hari, terhitung sejak 26 Juni 2024 hingga 23 Oktober 2024.

Pelaksanaan kegiatan berada di Kampung Keranji Guguh dengan Kelompok Masyarakat (Pokmas) Tirta Jaya sebagai pelaksana. Lingkup pekerjaan meliputi pembangunan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) baru, operasional kelompok masyarakat, pelatihan tingkat masyarakat, serta promosi kesehatan.

Namun, setelah pembangunan selesai dan dilakukan serah terima, fasilitas Pamsimas mengalirkan air setelah pembangunan selesai. Namun, aliran air tersebut hanya berlangsung sekitar tiga minggu.

Menurutnya, masyarakat sejak awal berharap keberadaan Pamsimas dapat memenuhi kebutuhan air bersih sehari-hari.

Harapan kami mendapatkan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari. Namun setelah serah terima, sekitar tiga minggu air tidak mengalir sampai sekarang,” katanya.

Pemerintah Kampung Keranji Guguh Khotib saat dikonfirmasi melalui WhatsApp menyatakan pembangunan Pamsimas tersebut bukan merupakan pekerjaan pemerintah kampung.

“Biar jadi perhatian provinsi. Itu bukan pekerjaan desa,” ujarnya.

Terkait pihak yang bertanggung jawab terhadap kondisi fasilitas tersebut, pemerintah kampung menyebut kegiatan Pamsimas memiliki tim pelaksana dan tim pengawas tersendiri.

“Kalau masalah tanggung jawab bukan kewenangan kami menjawabnya, karena ada tim pelaksana dan tim pengawas tersendiri,” jelasnya.

Pemerintah kampung juga menyebut telah menyampaikan telaah staf kepada Camat Koto Gasib, Wendy, terkait kondisi Pamsimas tersebut.

“Telaah staf yang sudah kami kirimkan ke Pak Camat Wendy telah kami sampaikan,” katanya.

Selain itu, pemerintah kampung mengaku telah mengajukan perbaikan sumur agar fasilitas tersebut dapat kembali dimanfaatkan masyarakat.

“Kami sudah mengajukan perbaikan sumur tersebut. Kalau mau cari siapa yang salah, jangan tanya saya. Di dalam telaah staf sudah kami sampaikan,” ujarnya.

Pelaksana Sebut Sudah Serah Terima

Sementara itu, Sucipto yang dikonfirmasi terkait keterlibatannya dalam pelaksanaan Pamsimas membenarkan bahwa dirinya terlibat dalam kegiatan tersebut.

Menurut Sucipto, proyek telah melalui proses serah terima kepada pihak Pamsimas dan pemerintah kampung.

“Proyek sudah serah terima ke Pamsimas sama desa setempat,” kata sucipto melalui WhatsApp.

Ia menjelaskan, proses serah terima turut melibatkan perangkat kampung, kepala dusun, RT/RK, perwakilan masyarakat, dan BPD.

“Serah terima terwakili perangkat desa, dari kadus, RT/RK, juga perwakilan masyarakat dan BPD. Desa yang punya agendanya,” jelasnya.

Persoalan Pamsimas Keranji Guguh juga dikonfirmasi kepada anggota DPRD Provinsi Riau, Fairuz.

Saat ditanya mengenai pembangunan Pamsimas tahun 2024 yang kini disebut tidak berfungsi/ mangkrak, Fairuz menyampaikan akan melakukan pengecekan terlebih dahulu.

“Waalaikum salam mas. Nanti saya cek dulu.” jawab Fairuz melalui WhatsApp.

Ketika ditanyakan apakah fasilitas tersebut sempat beroperasi setelah serah terima, Fairuz kembali meminta informasi mengenai kondisi di lapangan.

“Sudah sempat beroperasi belum?” tanyanya.

Setelah dijelaskan bahwa fasilitas disebut hanya berjalan sekitar tiga minggu setelah serah terima dan kemudian berhenti hingga sekarang, Fairuz memberikan tanggapan.

“Bukan mangkrak tu bang. Kerja kontraktor nya tak bagus,” ujarnya.

Pernyataan tersebut merupakan tanggapan Fairuz berdasarkan informasi yang diterimanya. Penjelasan dari pihak kontraktor dan instansi teknis terkait mengenai kondisi pekerjaan tersebut masih diperlukan untuk memastikan penyebab tidak berfungsinya fasilitas.

Tidak berfungsinya Pamsimas tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai pengelolaan dan pemeliharaan fasilitas setelah proses serah terima, termasuk pihak yang memiliki kewenangan melakukan perbaikan ketika sistem penyediaan air mengalami gangguan.

Masyarakat berharap fasilitas yang dibangun menggunakan dana pemerintah tersebut segera diperbaiki dan kembali berfungsi sehingga manfaatnya dapat dirasakan warga.

Warga juga meminta instansi teknis terkait turun langsung ke lokasi untuk memastikan penyebab tidak berfungsinya fasilitas sekaligus menentukan langkah perbaikan.

MitraTerkini.com masih berupaya memperoleh keterangan resmi dari Pemerintah Provinsi Riau dan instansi teknis terkait mengenai penyebab fasilitas tidak berfungsi, proses pengawasan, serah terima, serta mekanisme pengelolaan dan pemeliharaan Pamsimas setelah kegiatan selesai.

(Red)