Mitraterkini.com, Bengkalis – Ratusan anggota Pagar Nusa Kabupaten Bengkalis menggelar Apel Gelar Pasukan dan Latihan Gabungan dalam rangka “Aksi Bela Kiai” di Pondok Pesantren Al-Ma’arif Kecamatan Siak Kecil Kabupaten Bengkalis, Jl. Hikmah, Desa Sungai Siput, pada Minggu (19/10/2025) pagi.
Kegiatan ini merupakan bentuk respon moral santri dan kader Nahdlatul Ulama (NU) atas dugaan pelecehan terhadap Pondok Pesantren Lirboyo yang dilakukan oleh salah satu program televisi nasional, Trans7, melalui tayangan “Expoced Uncensored” pada 13 Oktober 2025.
Secara nasional, kegiatan ini merupakan bagian dari instruksi Pimpinan Pusat (PP) Pagar Nusa, yang menyerukan seluruh kader di daerah untuk meneguhkan solidaritas dan kesiapsiagaan moral santri dalam membela kehormatan kiai dan pesantren.
Apel gabungan yang dimulai sekitar pukul 07.00 WIB ini dihadiri oleh Ketua PC Pagar Nusa Kabupaten Bengkalis Bapak Winarto, Pimpinan Pondok Al-Ma’arif , Pengasuh dan lainnya.
Kegiatan diawali dengan Apel Gelar Pasukan, menyanyikan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya dan Mars Ya Lal Wathan, kemudian pembacaan amanat Ketua Umum PP Pagar Nusa, doa bersama, dan foto bersama seluruh peserta.
Dalam amanat tertulis Ketua Umum PP Pagar Nusa yang dibacakan oleh Ketua PC Pagar Nusa Bengkalis, Bapak Winarto, disampaikan pesan mendalam tentang pentingnya menjaga kehormatan guru dan pesantren sebagai pusat keberkahan ilmu.
“Keberkahan ilmu hanya akan turun kepada murid yang memuliakan gurunya dan menjaga kehormatan para gurunya,” kutip Aris dari dawuh Hadratussyekh KH. Hasyim Asy’ari dalam kitab Adab al-‘Alim wa al-Muta’allim. Ia menjelaskan bahwa pesantren bukanlah penghambat kemajuan bangsa, melainkan pusat lahirnya para ulama, pejuang kemerdekaan, dan pendidik yang menjaga moralitas umat.
“Kami tidak marah karena benci, tetapi karena cinta kepada kiai dan pesantren. Santri tidak bergerak dengan emosi, tetapi dengan komando dan adab. Itulah bedanya kemarahan santri, ia lahir dari cinta, bukan dendam,” ujar Bapak Winarto dalam sambutannya.
Ia menegaskan, kegiatan ini bukan untuk menciptakan kegaduhan, tetapi untuk menunjukkan kesiapsiagaan santri dalam menjaga marwah pesantren sebagai benteng peradaban Islam Nusantara.
“Hari ini kita tegakkan kembali semangat resolusi jihad 22 Oktober 1945 dalam konteks masa kini — bukan dengan senjata, tetapi dengan moral, disiplin, dan akhlak. Santri Pagar Nusa akan selalu siap membela kiai, menjaga pesantren, dan setia kepada negeri,” tambahnya.
Aspresiasi atas pelaksanaan kegiatan yang berjalan dengan tertib, damai, dan penuh khidmat, kegiatan ini mencerminkan kedewasaan organisasi keagamaan dalam menyampaikan aspirasi dengan santun dan berlandaskan hukum.
Pagar Nusa telah menunjukkan kelasnya sebagai warga negara yang taat hukum dan beradab. Aspirasi yang disampaikan justru menambah wawasan masyarakat tentang bagaimana menyampaikan pendapat dengan cara yang konstruktif, Kami yakin kegiatan seperti ini menjadi contoh baik bagi masyarakat Bengkalis. Semoga menjadi teladan bahwa santri dan aparat bisa berjalan seiring dalam menjaga keamanan dan keharmonisan bangsa,”
Ketua PC Pagar Nusa Kabupaten Bengkalis Lantang menegaskan bahwa kegiatan Aksi Bela Kiai bukan sekadar reaksi emosional, tetapi bentuk kecintaan santri terhadap kiai dan lembaga pesantren yang selama ini menjadi pilar pendidikan dan moral bangsa.
“Kita ingin menunjukkan bahwa santri dan pesantren tidak bisa dilecehkan. Mereka adalah penjaga akhlak bangsa, tempat lahirnya pemimpin berjiwa rahmatan lil ‘alamin. Pagar Nusa Kabupaten Bengkalis akan selalu berdiri di depan untuk membela kehormatan ulama dan menjaga persatuan umat,” Jajaran Pengurus dan Angota Pagar Nusa yang telah menunjukkan ketertiban dan kedisiplinan tinggi dalam pelaksanaan apel gabungan.
“Inilah wajah Islam Nusantara: beradab, cinta damai, tapi tegas dalam prinsip. Kami berharap seluruh kader terus meneladani kiai dan menjaga nama baik pesantren di manapun berada,” Sebaimana diketahui, Pagar Nusa sendiri merupakan badan otonom (banom) Nahdlatul Ulama yang berfokus pada penguatan bela diri, kedisiplinan, serta penanaman nilai-nilai kebangsaan dan keagamaan. Di Kabupaten Bengkalis, organisasi ini memiliki sekitar 1000 anggota aktif yang tersebar di berbagai kecamatan dan pondok pesantren.
Selain apel dan latihan gabungan, kegiatan hari itu juga dirangkaikan dengan istigasah dan doa bersama di Pondok Pesantren Al-Ma’arif, sebagai bentuk dukungan spiritual terhadap para kiai dan lembaga pesantren di seluruh Indonesia.
Secara simbolik, kegiatan ini menegaskan bahwa santri bukan hanya penjaga moral, tetapi juga penyangga keutuhan bangsa.
Pesan utama yang menggema dari seluruh peserta adalah satu:
“Bela Kiai, Jaga Pesantren, Bela Negeri.”
KETUA PC. PAGAR NUSA KABUPATEN BENGKALIS
BOPO WINARTO,***
(Red)